Western Australia : Social and cultural visit November 2016.

Overseas

Safari Sosial-Pendidikan ke Australia Barat (3): Kebaikan Sebuah Keluarga

Barrie Stewart, kalau tak salah ingat dikenalnya awal tahun 2014. Adam Putra Shofwan Karim memintanya datang ke resepsi sekolahnya. Adam adalah  siswa Madarasah Aliah Negeri 4 bertaraf Internasional Pondok Pinang Jakarta. Adam adalah putra “buah salek” dari Atuak dan Anduang. Karena jarak kelahiran Adam dengan kakak perempuan di atasnya, atau anak ke tiga Atuak dan Anduang cukup lama, 13 tahun. Adam kelahiran 1996, sedangkan kakak di atasnya tahun 1983, dan kakak di atas itu lagi laki-laki tahun 1980 dan 1978.

 Sebelum naik Bus dari Perth ke Narrogin Town, 192 km, terlebih dulu kami naik kereta dari stasiun subway-metro pusat kota ke Bus Stop pinggiran kota Perth. (Photo: Dok/SK)

 

 Arah luar kota dari Perth ke Narrogin Town (Photo: Dok/SK

Malam itu MAN 4 melakukan perpisahan dengan tiga orang guru Narrogin Senior High School(NSHS) , Western Australia. Mereka selama beberapa minggu mengikuti  kegiatan mengajar di Madarasah ini. Kegiatan itu merupakan agenda tahunan kerjasama School Sister MAN 4 dengan NSHS ini sejak beberapa waktu sebelumnya. Beberapa guru MAN 4 Jakarta sudah terlebih dulu datang ke NSHS. Dan pada malam itu, menurut Barrie, pada bulan Agustus 2014, beberapa siswa MAN dan gurunya akan datang pula ke Narrogin.

 Keluar dari Subway ke Bus (Photo: Dok/SK)

Secara bergurau Atuak mengatakan, “Barrie, one day I am coming to visit you in Narrogin“. “Please, do it“. kata Barrie.  ” We will welcome you“, tambahnya.  Seperti biasa Atuak ini selalu bermain dengan kata dan dengan ringan  menyebut  kepada kenalannya di dalam atau luar negeri, “suatu waktu akan mengunjungi anda“. Sepertinya kata-kata itu do’a yang selalu lebih banyak  terwujud dan terjadi . Dan kali ini, hal itu terkabul.

Dari Hotel Ibis, Atuak dan Anduang berjalan kira-kira 100 meter ke kiri menyusuri Jalan Murray ke perempatan untuk menyeberang. Berdiri sebentar, seperti pejalan kaki lainnya menunggu lampu merah menjadi hijau dan bergegas masuk ke kiri lagi dan turun ke under ground atau kereta bawah tanah.

Seperti biasa mula-mula kedua orang ini bingung. Mau membeli tiket di mesin box kiri-kanan jalan masuk. Di dalam pesan FB Messenger, Barrie menulis bahwa tiket Bus ke Narrogin sudah dibelinya dan mengirim kode booking. Kedua Manula (manusia usia lanjut) ini harus berada di East Perth Station sebelum pukul 09.00 pagi karena Bus berangkat pukul 09.15. Sedapatya kata Barrie, pukul 08.45 sudah di station itu.

 Di salah satu Stasiun Bus, Perth. (Photo: Dok/SK)

Atuak langsung menggejuju ke lelaki petugas yang berdiri di gang dekat gardu. Lelaki itu asyik memperhatikan orang keluar masuk. Bagi yang punya pass-paid ticket, mereka tinggal sentuhkan card-nya dan berbunyi, “nyet” palang penghambat membuka dan menutup sendiri.

Bagi yang membeli tiket, tinggal lihatkan ke lelaki itu. Arus pelawat ke dan dari Perth underground ini lancar keluar masuk di banyak lorong kecil dengan empangan di depannya yang  terbuka otomatis, bila kartu pass-paid itu digesekkan .

Biasalah, seperti subway, under-ground atau train di berbagai kota di Asia, Amerika, Eropa, bahkan di Afrika seperti Maroko, Kanada dan negara lainnya. Pemandangan yang biasa dilihat Atuak dan Anduang sepanjang safarinya ke berbagai belahan dunia dalam batang usia  masa pernikahan mereka sejak hampir 40 tahun lalu.

 Resto SMA Narrogin

 

 Makan siang di Resto SMA Narrogin bersama guru-guru.

 

Oleh karena untuk pertama kali menginjakkan kaki di benua Kanguru ini, Atuak dan Anduang menyesuaikan dulu sistem dan menelisik harga harga tiket. Hal berkenaan  tentang Transperth (Transportasi Perth) ini akan dikisahkan Atuak pada bagian tulisan lain. Pokoknya pagi itu, Atuak dibantu petugas tadi memasukkan uang kertas 10 $ Au dan menekan tombol untuk tiket kereta sampai di station East Perth.

Matahari yang sudah lama bersinar sejak pukul 5 pagi  musim semi ini menyambut tumpahnya penumpang kereta di Stasiun East Perth.  Berjalan sejenak, naik tangga, menyeberang dan jalan lagi. Sampailah kedua orang ini ke pemberhentian Bus. Dengan lancar nomor booking diperlihatkan dan bawaan dimasukkan ke perut Bus. Tak banyak penumpang Bus yang menuju terminal akhir Albany.

Kedua orang ini akan turun di sebuah kampung yang dikatakan Barrie, William.  Di kiri kanan jalan lebar itu kelihatan pepohonan rindang. Ada yang sudah tinggi dan ada yang kelihatan baru ditanam. Dan pepohonan itu kelihatannya seragam bagai tanaman industri yang siap diolah setelah jangka waktunya tiba.

Pk 11.15, setelah dua jam  Bus berelari kencang segera berhenti di William. Di situ ada terminal sederhana. Kedai serba ada, pompa bahan bakar dan toilet. Ketika Bus mulai berhenti perlahan, kelihatan Barrie melambaikan tangan. Rupanya dia sudah stand-by di situ.

 Bersama klg Barrie Stewart. Guru SMA Narrodin.

Barrie Stewart adalah guru negeri di Australia Barat. Beliau Sarjana Pendidikan, Sejarah dan Bahasa Indonesia dari Murdoch University. Juga studi tentang Gamekeeping dan Waterkeeping pada Spartholt College.  Di samping guru sejarah dan bahasa Indonesia di NSHS, Barrie  juga mengajar di Sekolah Dasar St. Mathews di kota berpenduduk 4219 orang (sensus 2011) ini.

 Kelarga Barrie Stewart, Guru SMA Narrogin.

Narrogin, nama kota ini diberikan penduduk  asli Aborigin berasal dari kata “Narroging”. Mulai  ditempati kawasan ini pada tahun 1869. Arti hakiki tak banyak diketahui kecuali ada yang mengatakan sebagai kamp (kumpulan) kelelewar. Bisa jua  tenpat menanam apa saja dan bisa pula berarti genangan air.

Orang Eropa pertama ke Narrogin adalah Alfred Hillman yang mensurvei tempat antara Perth dan Albany ini pada tahun 1835.

Barrie menetap di kota ini sejak 9 atau 10 tahun lalu. Barrie menikah dengan Dian. Isterinya ini berasal dari Australia Selatan dan Barrie berasal dari Inggris. Mereka lama tinggal di Inggris dan hijrah ke sini setelah anak-anaknya remaja dan dewasa. Mereka mempunyai 3 putra-putri . Yang tertua  pria,  bekerja di Melbourne dan yang kecil juga pria  sekolah di Perth. Sementara yang putri anak kedua, barusan selesai kuliah.

Rumah mereka cukup asri dan lapang. Mempunyai 4 kamar tidur, seperti ditunjukkannya. Cukup untuk masinh-masing anak 1 kamar dan pasangan Barrie-Dian 1 kamar. Dari ujung yang berbeda ada dua kamar mandi besar dengan masing-masing bath-tub besar untuk yakuzzi atau  mandi air berombak dan memijat tubuh,  dengan toilet closed berbalut kayu mengkilat. Ada kamar mesin cuci. Ruangan tamu dan pustaka pribadi, sofa dan kasur duduk dengan TV besar serta panjangan  lainnya. Dapur dengan ruangan tengah menyatu. Di situ  ada perangkat komputer dan wifi serta media lain. Di serambi belakang ada dapur  di luar rumah. Gunanya  untuk musim panas membakar ikan, see-food, daging dan grill serta barbeque.

Ada kolam renang mini yang disamping digunakan untuk mandi berenang juga menyimpan air kalau datang musim kering dengan pipa panjang dan mesin air meyirami taman luar. Tanah yang dirtumbuhi rumput serta beberapa jenis pepohonan sekitar 100 acre. Di situ merumput seekor kuda piaraan keluarga itu.

Kepada Atuak dan Anduang, Barrie, Dian dan Jy Cara menunjukkan  apa saja yang ada di rumah dan sekitarnya. Setelah keliling sejenak, mereka membawa kedua tamu ini  keluar lagi. Katanya ke suatu tempat yang akan ditempuh sekitar 20 menit keluar kota.

Mereka membawa kedua orang ini ke cagar alam flora dan fauna. Sambil menyetir Barrie menceritakan apa yang berhubungan dengan keluarganya dan seluk beluk kota ini. Mereka sangat bersahabat, baik sekali dan apada adanya dan  tidak basa-basi.

Kuda piaraan Klg Barrie.

Atuak pernah menanyakan secara halus via FB Messenger ketika Barrie mengatakan bahwa tiket Bus ke Narrogin dari East Perth sudah dibelinya dan jangan lupa menunjukkan nomor booking. Atuak katakan apakah saya harus bayar waktu menyebut nomor booking itu? .

 Di sebuah sekolah SD Narrogin.

Maksud Atuak mencari tahu berapa uang tiket itu. Tetapi Barrie bilang, semua sudah beres. Rasanya tidak beda orang yang berbudaya barat dan masyarakat tanah air Atuak dan Anduang ini. Mereka menghormati dan menyayangi sahabat dan tamu.

Mungkinkah karena mereka berasal dari keluarga guru? Apalagi Dian, sang nyonya dan ibu dari 3 putra-putri tadi  bekerja sebagai perawat di sebuah Rumah Sakit di sini.  Tentu kerjanya selalu menghibur  dan merawat hati pasien serta memberi perhatian kepada orang yang memerlukan.

Putrinya Jy Cara, juga kelihatan riang. Jy sekarang lagi libur. Maka  selama dua hari ini  Atuak dan Anduang bersamanya di Narrogin. Dan hari Kamis, 3 November setelah dua hari di kota kecil Naarrogin, Jy Cara bersama ibunya mengantar Atuak dan Anduang kembali ke Perth dengan mobilnya.

Menurut Dian,  kakaknya atau om dari anak-anaknya akan datang dari Melbourne. Setelah mengantar kami ke King Park Botanic Garden serta  keliling kota Perth, Dian dan putrinya Jy Cafa  menjemput saudara kandungnya itu ke Bandara Perth untuk bercengkerama bersama mereka di Narrogin beberapa hari. ke depan.  (Bersambung)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *