Kampus, Politik, Cendekia dan Cinta: “Silhouette” Kehidupan Prof Marlis

ICMI
GF-MR
Bersama Gubernur dan Wagub Gamawan Fauzi-Marlis Rahman, PCMI Sum bar yang akan berangkat ke program antar negara.

 

 

Kampus, Politik, Cendekia dan Cinta: “Silhouette” Kehidupan Prof Marlis

Oleh Shofwan Karim  

Prolog. Bagai garis keliling bayang-bayang lukisan, inilah narasi besar autobiografi  Prof. Dr. H. Marlis Rahman, MSc., yang lahir di Bukittingi,  9 Juni 1942. Kata  “silhouette” kehidupan, mungkin tepat untuk disematkan pada wacana singkat ini.  Hati  terasa  menggejuju ketika membaca buku setebal 422 di tangan kita sekarang.

Terbagi kepada autobiografi serta testimoni para sahabat. Diawali sekapur sirih Editor, sambutan Wapres JK, pengantar Gubernur Prof. Irwan dan pengantar Rektor Prof Tafdil ditutup profil editor, Eko Yanche Edrie dan Nita Indrawati Arifin.

Saya membatasi diri secara selintas untuk menyigi empat sudut pandang dari buku ini. Kampus, politik, cendekia dan cinta. Prof. Marlis sebagai akitivis dan pemimpin kampus; menjadi politisi dalam makna menjadi wakil Gubernur dan kemudian Gubernur; tokoh cendekiawan  dan seorang anak manusia yang penuh cinta.

Tentu saja ada interperetasi dan opini saya pribadi yang subyektif perlu meminta maaf kepada beliau kalau kurang berkenan. Lebih dari itu  variasi informasi lain yang tidak ditulis di buku, tidak tertahankan oleh saya untuk mengatakannya.  Boleh jadi bagai percampur-adukan yang sukar dihindari.

Kampus. Saya mengenal  Rektor Universitas dan Institut agak dekat sejak awal 70-an sampai sekarang. Satu di antaranya Prof. Marlis. Dulu sebelum Profesor belum sebanyak sekarang, kami memanggilnya Pak Marlis.  Sekarang kita merasa kurang sopan kalau tidak menyebutnya Prof Marlis. Meski sudah emiritus. Beliau satu di antara 4 Rektor dan Guru Besar  yang sempat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar. Tiga lainnya adalah Rektor dan Gubernur  Prof. Dr (HC) Drs. Harun Zain, Wakil Gubernur Prof. Dr. Fachri Ahmad dan Gubernur  Prof. Dr. Irwan Prayitno.

Warna dunia perguruan tinggi, bolehlah disebut amat pekat memberi  corak  kepada pertumbuhan dan perkembangan Sumbar. Baik di dalam kaitan dengan strategi, rencana, rancangan, pelaksanaan dan penilaian terhadap jalannya pembangunan maupun sumber daya manusia dalam pembangunan itu sendiri.  Ada zamannya beberapa  Kepada Dinas, Kanwil dan Kepala Kantor atau sekarang Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) beberapa berasal dari perguruan tinggi.

Jangan disangka, ketika gubernur-gubernur lainnya seperti Pak Azwar, Pak Hasan, Pak Zainal dan Pak Gamawan, peranan perguruan tinggi mengendur.  Semua gubernur itu  menjadikan perguruan tinggi sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan kerja pemerintahan. Tentu saja dalam getaran aura dan dinamika yang berbeda.

Asik kita mengikuti dinamika apa yang dipikirkan, direncanakan, dikerjakan dan ditekuni Prof Marlis di Unand. Kesetiaan kepada  Unand meski ada tawaran untuk  mengabdi di ITB setelah menyelesaikan S1 di situ. Sebagai dekan FIPIA pada ujung 1970-an itu, menyekolahkan dosen keluar Sumbar dan luar negeri untuk S2 dan S3. Walau beliau sendiri sebagai dekan  masih S1.  Baru belakangan berfikir tentang  dirinya. Beliau menyelesaikan studi S2 dan S3 di OSU, USA. Menggeluti Pusat studi lingkungan hidup. Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi.  Dan Tahura Bung Hatta.

Bergelut dengan dunia akademisi dan penelitian menurut bidang studinya, bekelindan dengan peranan kepemimpinannya di Unand. Ketua jurusan, dekan wakil rektor kemudian rektor. Sebuah repleksi yang manarik ketika Prof Marlis dengan lembut  mengkisahkan bagaimana  pesimisnya  pada awal  akan menjadi rektor diujung era Orde Baru itu. Meski suara anggota senat diraihnya mayoritas, tetapi ada tokoh lain yang punya lobby tinggi ke atas.

Kisah rekomendasi Gubernur HasanBasri Durin  dan  Ketua Golkar Brigjen TNI (Purn) Nurbahri Pamuncak ke Wapres yang “lenyap”. Peranan Menteri Naker Abdul Latif yang secara terus terang diungkap menembus tembok istana Wapres Tri Sutrisno. Maka rekomendasi berubah dari “lis” yang satu menjadi “Marlis”.

Saya agak tersenyum renyah membaca bagian ini. Kisah pemilihan rektor universitas atau  perguruan tinggi seperti itu ternyata belum berubah sampai sekarang. Meski zaman reformasi sudah hampir dua dekade, masih ada saja suara senat yang mayoritas dikalahkan oleh lobby tingkat tinggi tadi. Walau dalam kasus Prof Marlis, beliau sudah memperoleh suara mayoritas yang hampir tergusur, tetapi karena faktor Latif tadi, menjadi selamat.

Masa sekarang lain lagi. Legitimasi dibuat.  Ketentuan tenang  suara menteri. Di dukung oleh suara menteri sekian persen, maka suara mayoritas senat bisa kalah. “Katanya”, sekarang akan berubah lagi (sudahkah?)  bahwa rektor definitif akan ditentukan RI 1. Untuk yang satu ini, terasa betul bahwa demokrasi di kampus masih lip-service, artificial. Atau memang tidak perlu lagi. Cukup dengan sistem  lelang jabatan saja oleh kementerian.  Lelang jabatan rektor.

Politik. Dari 11 orang Rektor Unand sejak 1956 sampai 2017 ini, Prof. Marlis termasuk beberapa di antaranya yang menjabat dua kali masa jabatan (1997-2006). Tentu boleh disebut banyak prestasi dan kerja yang dituntaskannya. Bahkan mengikuti sejarah awal reformasi, beliau menjadi Ketua Forum Rektor Indonesia. Beliau sering nongol di layar kaca. Dengan begitu  tak kalah pentingnya mengenjot mesin demokrasi-reformasi era awal itu.

Tergambar dari paparan di dalam buku, persentuhan Prof Marlis dengan politik sudah dimulai. Pada masa jabatan kerektorannya pertama, selintas keinginannya menjadi gubernur tahun  2000 belum kesampaian.   Pemilihan Gubernur tahun 2000 adalah model terakhir pemilihan oleh DPRD. Di dalam angannya beliau ingin menjadi Gebernur bukan Wagub. Ini sebagai yang ditulisnya dan dibenarkan oleh testemoni Hasril Chaniago. Beliau selamat, karena Zainal Bakar  yang semula meminta Prof. Marlis, ternyata telah mengantongi persetujuan  Prof Fachri.  Dua nama terakhir inilah yang  dipilih DPRD waktu itu menjadi gubernur dan wakil.

Pada Pilgub 2005, seperti ditulis, Prof. Marlis berpasangan dengan Gamawan. Saat itu menurut Hasril Chaniago (tidak ada di dalam buku, silahkan tanya ke  HC), dalam waktu sibuk-sibuk masa pencalonan pemilihan langsung oleh rakyat, pertama kali itu, Gamawan sebenarnya ingin berpasangan dengan tokoh lain. Tokoh, yang kita sebut saja di sini Si Pulan, sedang mengikuti sebuah konferensi internasional di Kualalumpur, Hasril mengontaknya. Akan tetapi hal itu urung karena faktor Bang Saidal Bahauddin, seperti diceritakan di dalam buku.

Gamma (Gamawan-Marlis) terpilih dengan suara amat signifikan mengalahkan suara calon-calon lain. Dan muaranya Gamma menjadi gubernur dan wagub idola bagi mayoritas warga Sumbar, di awal pemerintahan pertama Presiden SBY-Wapres JK waktu itu.

Tentu saja dengan semua kehebatan dan tantangannya. Pasangan ini menuntaskan rencana awal, pembebasan lahan dan modal awal pembangunan Masjid Raya Sumbar, membangun kembali Istano Basa Pagaruyung yang terbakar, Tour d’ Singkarak dan lain-lain.

Dan jangan lupa, tantangan berat adalah rehab-rekon serta recovery-trauma Gempa 30 September 2009 (G 30 S). Pendek kata, kisah kepemimpinan duo—rabuang-karambia tuo (istilah Bagindo Rani Ismail) itu berujung dengan pernyataan Prof Marlis, kedua mereka, “akur hingga akhir masa jabatan”.

Dengan begitu pasangan Gamma meyempurnakan idola masyarakat dengan diangkatnya Gamawan menjadi Menteri Dalam Negeri dan Prof Marlis dilantik menjadi Gubernur. Kesampaian juga gantungan angan Prof Marlis meski hanya lebih kurang setahun. Pokoknya menjadi gubernur, begitu kira-kira.

Saya melompat ke Pilgub 2010. Prof Marlis Rahman berpasangan dengan Aristo Munandar. Bahagia menyerahkan tongkat estafet, begitu ditulisnya, setelah kalah. Saya mengira-ngira, kata bahagia itu adalah klise dan hanya untuk menyenangkan diri. Menurut persangkaan saya, pada awalnya tidaklah demikian.  Mungkin kata bahagia itu ditulis sekarang.  Kalau ditulis tahun 2010 itu, mungkin lain.

Akan lebih baik kata itu bahagia itu diganti dengan kata ikhlas. Karena kata ikhlas lebih jujur dari pada kata bahagia. Ikhlas belum tentu bahagia.   Alasan saya, karena di luar isi buku, Mato mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi. Mungkin karena merasa kalah tipis.  Seperti dikutipmedia,

“Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya menolak seluruh gugatan atas hasil pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) Provinsi Sumatera Barat yang diajukan dua pasangan calon yaitu Ediwarman-Husni Hadi dan Marlis Rahman-Aristo Munandar (Mato)”.

Cendekia. Kearifan seorang cendekiawan adalah nafas kehidupan.  Diiringi dengan tanggung jawab dan kepedulian kepada masyarakatnya. Memperjuangkan dan  mengatakan kebenaran. Bung Hattta menyebutnya tanggung jawab kaum intelegensia.

Prof Marlis, selain akademikus dan  politisi  adalah kaum intelegensia, cendekiawan. Beliau menjadi ketua forum rektor Indonesia (FRI) dan bersama yang lain, pendiri koran Mimbar Minang berbasis koperasi. Lebih dari itu, Prof Marlis  adalah Ketua ICMI Majelis Pimpinan Wilayah Sumbar dari ujung tahun 1990-an, bahkan sampai sekarang setelah berulang-ulang dipilih kembali.

Senioritas Prof Marlis di kalangan ICMI dan keteguhan prinsip serta kharisma beliau amat diakui. Saya –ini tidak ada di dalam buku—ikut rapat musyawarah wilayah dan tim formatur. Setelah Prof Marlis menjabat wakil gubernur, ada keinginan beberapa orang untuk menawarkan ke beliau supaya yang menjadi Ketua ICMI Sumbar  berikut pada tahun 2007 itu adalah Rektor Unand masa itu, Prof Musliar Kasim.  Tetapi ada pula yang berpendapat, sebaiknya tetap Prof Marlis yang menjabat wakil Gubernur kurun itu. Alasan yang memilih Prof Musliar adalah regenerasi kepemimpinan. Sedangkan alasan yang memilih tetap Prof Marlis adalah kharismanya, jabatannya yang wagub menambah wibawa Ketua.  Dan lebih dari itu, mudah-mudahan  pada Pilgub berikut, kalau beliau ikut bertarung—maksudnya 2010—dan terpilih, maka Prof Marlis dapat membawa bahtera ICMI lebih paten lagi.  Lebih-lebih lagi, dalam perkiraan saya waktu itu, Prof Musliar tidak mau menjadi Ketua kalau masih ada Prof Marlis atau  belum ada lampu hijau dari Sang Maestro ini.

Tradisi selama ini, setahu saya mengapa Ketua ICMI Sumbar lebih cenderung dipilih dari Unand, terutama Rektornya. Dan itu terjadi sejak dari Prof. Yurnalis Kamil yang menjabat masa awal, kemudian Prof. Marlis berturut-turut berikutnya.

Di antara pertimbangan itu, ICMI lebih kuat dan kokoh kalau didukung oleh cendekiawan yang berasal dari kampus umum dari pada kampus pendidikan tinggi Islam seperti IAIN. Di dalam bahasa sederhananya, kalau cendekiawan muslim dari IAIN, STAIN atau UIN, rasanya kurang bertambah “ruweh tabu” atau ungkapan lain, “indak batambah laweh lapiak”.

Maka izinkan saya memperkirakan, kalau Prof Marlis akan menyerahkan tongkat kepemimpinan ICMI ada pilihannya. Di antaranya rektor Unand sekarang atau rektor-rektor  Unand  sebelumnya, atau rektor UNP sekarang dan sebelumnya. Atau akan lebih asik lagi ICMI, kalau Gubernur Prof. Irwan yang secara ikhlas diminta menjadi Ketua.  Ini  semua diiringi harapan untuk perkokoh kecintaan Prof. Marlis  kepada dunia kecendekiawanan.

Cinta. Secara personal tergambar marak kecintaan Prof. Marlis kepada ayah, ibu, keluarga, isteri dan anak. Pada dimensi lain, impersonal, cinta bergumpal dalam dinamika dunia akademik, menimba ilmu pengetahuan, penelitian, cinta kepada masyarakat sumbar sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan.  Silaturrahim yang kuat dengan para sahabat. Semua itu bertali-temali yang saya pikir ujud cinta saling berpadu.

Kecintaan Marlis muda kepada ayah Rahman Sutan Batuah dan ibunda Lian diungkapkannya dengan rasa haru. Terus terang dan apa adanya. Tentang ayahnya yang di buku disebut “Apak”, tukang pedati, parewa dan  pejudi kemudian tobat sehingga gelar berubah dari Sutan Batuah menjadi  Malin Batuah.

Ibunya, Lian yang dipanggil “Amak” berperawakan rendah sehingga dipanggil Mak Andah. Kedua sosok ayah-ibunya mempunyai kesan mendalam bagi Prof. Marlis. Tentu saja pada bagian-bagian tertentu, Prof. Marlis melukiskan ayahnya sebagai pekerja  keras menghela gerbong rumah tangga. Di dampingi Amak yang buta aksara latin, tetapi amat sungguh-sungguh mendorong sang putra bersekolah, bersekolah, bersekolah.   Kalau tidak, mau jadi apa nanti ?

Skenario kehidupan, menjadi semakin manusiawi ketika Prof. Marlis memaparkan romantika pertemuan, lika-liku dan melajunya perahu kehidupan tahap pertama rumah tangganya dengan Elly atau Dr. Yarnelly Gani. Mulai dari SMA Karnas, FIPIA Unand, ITB, dan sama-sama menyelesaikan Master dan Doktor di Ohio State Unversity, Amerika.

Bagai film 1970-an “cinta di kampus biru”  mengalir diceritakan beliau. Salah satu foto yang termuat di halaman 120 dengan kapsi, “kenangan saya bersama Elly di Apartemen Lakeviw, Ohio,” mencerminkan betapa mesra pasangan ini. Rupanya ketentuan Allah lain. Kemesraan duniawi tidaklah abadi. Bagaimana perjuangan tabah seorang Elly, kekasihnya menghadapi kanker yang dideritanya, ditulisnya dengan rasa duka yang dalam.

Meski begitu, Prof. Marlis berupaya dengan keras memindahkan episode ini ke fase berikutnya. Tentu saja tidak bisa melupakan hidup bertahun-tahun sasakik-sasanang dengan almarhumah, namun tidak boleh hanyut di dalam kesedihan  dan mesti ikhlas menerima takdir. Mungkin karena tidak hendak berdalam-dalam dengan kisah menusuk kalbu, maka dengan menerima saran kakak perempuannya, beliapun mulai  tercerahkan untuk keluar dari kedukaan yang jangan terlalu  panjang.

Patah tumbuh hilang berganti, hari-hari bersama Wiwik adalah episode silhoutte Prof. Marlis mengisi relung hatinya dalam nuansa baru. Masih berkisar di kampus, takdir memang tidak terlalu jauh tercampak ke sudut lain. Dengan jujur Prof Marlis mengkisahkan bagaimana seorang gadis berangsur bersemayam di hatinya.  Sebenarnya saya ingin mengatakan memikat hatinya, tetapi kalimat itu tidak muncul.  Secara datar dikatakan, bahwa Wiwik adalah teman Hasnah, mahasiswi bimbingannya. Apa lagi Wiwik masuk kuliah di Biologi FMIPA ketika dia sedang kuliah di Amerika.

Penceritaan serba kebetulan ketika almarhumah isterinya di rawat di rumah sakit bersebelahan dengan ibunda Wiwik yang juga di rawat di kamar sebelah, terasa kurang cukup untuk menjadi alasan mengapa belakangan mau menikah dengan gadis ini.  Begitu pula ketika cerita bergulir Wiwik datang ke rumah seakan mengungkapkan duka terhadap kepergian almarhumah dan bertemu dengan Sang Kakak dan yang menyetujui  kalau itu calon yang pas. Mungkin menjadi rahasia paling dalam mereka berdua mengapa cinta itu bersemi.

Tiba-tiba mata Saya tertumbuk dan menelisik ke tulisan Dr. Mairawita, “Wiwik” pada halaman 367, ” Kebahagiaan di Antara Jarak Umur”. Di situlah ditemukan beberapa keinginan saya mencari alasan mengapa ketertarikan itu menjadi menggumpal . Buk Wiwik mampu memberikan secercah narasi. Setelah ibunya wafat, Buk Wiwik menjadikan kakak mamanya sebagai penentu arah kehidupannya sekaligus dapat menjawab kekhawatiran jarak usia yang terpaut agak jauh kalau  berjunjungan dengan tokoh ini.

Katanya, ” Di mata saya Pak Marlis meski berjabatan, adalah seorang yang sederhana dan rendah hati”. Sembari Bu Wiwik menceritakan pengalamannnya mendampingi Prof. Marlis ketika mendaftar untuk satu kegiatan tidak menyebut jabatannya sebagai rektor, akibatnya terpaksa diover ke 4 meja panitia. Penat menunggu, ketika dinyatakan sebagai undangan khusus, baru mereka diterima. Keadaan itu ternyata tidak membuat Prof Marlis gusar dengan panitia bahkan tenang saja.

Tentang usia yang terpaut jauh, Bu Wiwik menyebut tidak mengapa. Pak Marlis berjiwa muda, sangat mengayomi, tidak banyak tuntutan dan amat pengertian. Itu tidak berarti Prof Marlis mengikuti saja kemauan Bu Wiwik. Pada saatnya beliau tegas dan keras. Dan Bu Wiiwik merasa di situ pula untungnya, dengan latar belakang ilmu yang sama di Biologi, akhirnya ia menyelesaikan pula S3.

Nah ini uraian yang ditunggu. Prof. Marlis katanya adalah romantis, meski disiplin tetapi suka bercanda. Lebih dari itu, putrinya semata wayang Salsa yang lahir setelah dua tahun pernikahan, tumbuh menjadi dirinya sendiri. Prof.  Marlis meskipun sudah  pensiun terus  mendorong kemajuan Buk Wiwik dalam berkarir. Dan mereka menjadi keluarga yang “enjoy”. Tentulah kita berdoa mereka menjadi pasangan yang abadi sepanjang hayat dalam “sakinah, mawaddah warrahmah”.

Manhattan Hotel, 24 Sep 2017, Pk. 01.47 dinihari.

Email: shofwan.karim@gmail.com

Diambil dari : https://www.kompasiana.com/shofwankarim/59c76be56c139e0c72320e12/kampus-politik-cendekia-dan-cinta?page=all

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *