• icon

iconshofwan.karim@gmail.com

icon

Need Help? call us free

+628126787390
No Images

BERSAMA KOMUNITAS MUSLIM KAMBOJA, 20-25 April 2009 (2): Luka Lama Tak Hendak Diingat

BERSAMA KOMUNITAS MUSLIM KAMBOJA, 20-25 April 2009 (2):

Luka Lama Tak Hendak Diingat

Oleh Dr. H. Shofwan Karim, MA

Rektor UMSB, 2005-2013 dan Dosen IAIN=UIN IB Padang, 1985-2018


Selain Budha dan Islam tadi, agama kelompok kecil yang juga berkembang dengan lambat yaitu Kristen yang hanya memiliki lebih kurang 2 persen penganutnya. Tersebut belakangan ini sangat aktif mengembangkan misi dan memiliki sekitar 100 organisasi misi dan zending. Mereka mempunyai 2400 gereja, meskipun yang resmi terdaftar hanya 900 bangunan.


Ada lagi kelompok kecil pemeluk agama Cao Dai yang datang dari Vietnam serta ajaran Baha’i yang diikuti sekitar 2 ribu oang pemeluk saja. Di samping kelompok kecil yang terkahir ini ada lagi Misi Asing yang sangat aktif Gereja Mormons dan Saksi Jehovah yang dengan bebas menyebarkan misinya dari pintu ke pintu selama waktu jedah tengah hari waktu makan siang sampai pk 2 .


Di tengah aneka warna mayoritas Budha dan minoritas berbagai agama dan aliran, umat Islam yang komposisi nominal lebih besar dari kalangan minoritas lainnya tadi, sekarang sedang mencoba meningkatkan harkat dan martabatnya.


Zaman lalu yang kelabu di masa Khmer Merah (Khmer Rouge) Rezim Komunis Pol Pot (1975-1979) tak hendak mereka ingat lagi dan mereka biarkan tinggal dalam kenangan. Ratusan Masjid dan banyak madrasah telah diruntuhkan, diluluh-lantakkan dan dihancurkan Pot Pot pada lebih kurang 30-34 tahun lalu. Kini sebagian di antaranya telah mereka ganti dengan Masjid baru dan Madrasah baru.


Puluhan ribu kaum muslimin, ribuan tokoh dan ratusan ulama telah dibunuh rezim Pol Pot bersama masyarakat dan rakyat Kamboja lain lawan politiknya waktu itu. Total genosida menurut catatan di musium Kiling Field, Phnom Pehn ada sekitar 1,7 juta jiwa. Padahal penduduk Kamboja diujung dekade 70-an itu baru 8 juta orang. Artinya hampir 25 % telah menemui ajalnya karena siksaan dan pembunuhan langsung maupun tidak langsung.


Di antaranya anak-anak yang tidak mau mengkuti perintah penguasa waktu itu untuk membunuh orang tuanya, lalu mereka sendiri yang dibunuh. Cerita tentang umat Islam dan ulama serta para hakim dan imam tak kurang mengerikan. Pada waktu itu, mereka yang tidak mau makan babi, di samping dibunuh juga ada yang tak tahan disiksa lalu bunuh diri, karena mempertahankan prinsip akidah dan syariat yang mereka anut.


Sejak beberapa waktu belakangan keadaan mulai berubah. Kebijakan pemerintah sekarang memberikan pelayanan yang sama terhadap umat beragama di negeri ini. Keadaan ini telah melegakan nafas. Karena itu telah berdiri sejak beberapa waktu lalu sampai belakangan ini masjid-masjid baru dan madrasah baru.


Kaum muslimin telah ada yang bekerja dan duduk di kantor pemerintahan, baik di pusat dan daerah. Ada pula yang menjadi anggota parlemen dan juga anggota polisi. Di kalangan militer juga demikian. Bahkan salah seorang jendral yang menjadi salah salah satu kepala pengamanan PM Hunsen adalah seorang Muslim. Begitu pula di beberapa kementerian, ada pegawai muslim. Kaum wanita juga mulai mendapat tempat. Satu atau beberapa orang duduk di kementerian perempuan, social dan lingkungan.


Suasana yang berubah ini telah memudahkan bagi pendatang muslim ke Kamboja. Maka pantaslah ketika mencecahkan kaki di Bandara Intrenasional Phnom Pehn, kita akan dengan mudah menemukan mushalla untuk ibadah shalat. Pada lantai kedatangan dan keberangkatan Bandara Phnom Phen ada tempat kaum mulimin melaksanakan ibadah wajib harian ini.


Di dalam kota Phnom Pehn sendiri ada sekitar 6 sampai 7 buah Masjid. Salah satu di antaranya merupakan masjid internasional. Masjid ini didirikan dengan swadaya kaum muslimin setempat, juga dibantu oleh pemerintah serta beberapa perorangan muslim dari beberapa negara. Ada tanda mereka telah melewati masa suram ke dinamika perjuangan kini dan ke depan, meski minoritas di tengah mayoritas Budha. (Bersambung). SHOFWAN KARIM. Published by Harian Singgalang. Padang. 2 Mei 2009